THE FUNTASTIC FOUR (KAKAK PERTAMA)

Sahabat bukan tentang siapa yang paling menyenangkan, melainkan siapa yang akan bersama kita sampai akhir.” (Wilzkanadi)

Kali ini aku mau cerita tentang sahabat-sahabatku, aku menyebutnya The Fantastic Four (aku dan ketiga pria kece itu).

Selama ini aku menganggap pertemanan kami ini berarti. Sangat berarti. Bahkan aku berharap persahabatan ini tetep terjalin sampai kita semua tua nanti. Meski tak lagi bisa bersama, tak bisa ngumpul-ngumpul kayak dulu pun tak apa. Yang penting komunikasi tetep ada.

Dan kali ini aku akan bercerita tentang salah satu personil The Funtastic Four, Kakak Pertama, yang belakangan sombongnya gak ketulungan. Hahaaa😀

Entah itu cuma sama aku atau berlaku sama kedua temenku yang lain. Ahh, harus kutanyakan segera tentang ini sama kedua sohibku yang lain. Siapa tau cuma sama aku doang.

Aku gak tau sejak kapan temenku yang satu itu jadi aneh (menjauh gak jelas). Ok, jadi gini, sebagai temen apa aku terus yang harus memulainya duluan. Menyapa duluan. Dengan sifatku (yang harusnya dia tau, yaa, itu pun kalau dia masih inget). Dia tau, kalau aku itu bukan tipe orang yang biasa memulai. Ah, temenku yang satu itu bener-bener menyebalkan.

Begini, manusia emang terlahir gak sempurna. Kalau misalnya temenku itu gak suka denganku dalam hal-hal tertentu, bagaimana mungkin dia dengan mudah jadi menyingkirkan kedekatan dan kebersamaan yang udah lama kita jalin di lebih banyak hal lainnya lalu dengan mudah melupakannya begitu aja.

Kamu tau, hampir semua makhluk hidup di dunia ini pernah bertengkar, termasuk binatang. Entah itu yang hidup di kutub sana, hingga yang ada di gurun pasir sekalipun. Itu kodrat makhluk hidup. Karena memiliki sifat berbeda satu sama lain. Yang terkadang merasa tidak cocok, cemburu dan mungkin emang udah ditakdirkan begitu agar bisa bertahan hidup. Tapi, bukankah manusia berbeda, kita dibekali dengan aturan dan teladan kehidupan.

So, untuk temenku yang satu itu, ada apakah gerangan, kenapa kamu jadi menjauh perlahan.

Ya, meski aku masih ingat betul akan kata-katanya yang ia kirimkan 14 Januari lalu.

Tapi yaa udahlah yaa, harusnya aku yang kesel, sakit hati atau apalah. Kufikir, mungkin persoalan waktu itu emang gak cocok di diskusiin sama aku. Lantas bukan berarti persahabatan yang lama kita jalin berakhir gitu aja bukan?!

Menguap kayak air.

Aku berharap kita bisa kayak dulu, kumpul bersama, jalan bersama, ngomongin sesuatu yang gak jelas. Bersama-sama sampe kita jadi orang. Bersama-sama sampe tua. Lalu bercerita pada anak cucu kita tentang persahabatan kita.

Ada satu titik dimana kita bakal ngeliat kebelakang. Terus sadar kalau temen-temen yang dulu selalu bareng satu persatu hilang. Dari yang mau nyapa tinggal nyapa, sampe mau chat aja musti nanya dulu sibuk atau gak.

Dari yang gak malu minjem duit, sampe yang segen hanya sekedar nanya kabar.

Jangan pernah remehin secuil rasa kangen. Kalau ada yang ngajak ngumpul, usahain kumpul, sesibuk apapun itu.

Jangan nunggu SUSAH SENENG BARENG sampe SUSAH KUMPUL BARENG.

Who know it’s ur last or their last?

Temen emang bakal datang dan pergi. Tapi temen sejati akan menemani hingga rambut memutih.

“Teman sejati adalah mereka yang selalu ada disisimu bukan hanya pada saat kita berjaya, namun juga pada saat kita tak berdaya.” (Amanda Adriani)

1 KEJUTAN, 5 KEGAGALAN

Kufikir, jika suatu hari aku disuruh menengok masa lalu dan menertawakan sesuatu, salah satunya aku akan ingat hari ini dan menertawainya. Meskipun pada hari ini responku tak begitu. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa menanggapinya dengan sudut pandang berbeda.

Hari ini (Rabu, 27 Januari 2016), aku berniat memberikan kejutan pada temanku. Yang belum lama ini menerorku, membuatku bertanya-tanya, karena pada akhirnya dia tak jelas seperti biasa.

Untungnya aku benar-benar tak datang ke tujuan utamanya (tetangganya, seperti yang udah aku rencanakan malam sebelumnya) dan membawa kado kecil itu. Aku memutuskan datang ke tempat penting, melepas kangen sekalian napak tilas. Dan menyadarkan diri agar tak dibilang agresif.

Hampir dua jam lamanya aku menunggunya, tapi tak jua muncul batang hidungnya. Selidik punya selidik. Ternyata terjadi Miss Komunikasi antara aku dan dia.

Harapanku hancur berkeping-keping. Disambut guyuran air hujan yang tiba-tiba. Kegegalan (pertama) telah tumpah.

Setelah kejutan kecil itu gagal, kuputuskan untuk melanjutkan apa yang udah kurencanakan. Sayang, saudara malah marah-marah, ngambek, dan sepertinya kita bakal jadi makhluk asing lagi yang tak saling mengenal satu sama lain.

Saat inilah perasaan gagal (kedua) untuk mengayomi saudara sedarah. Maaf.

Setelah sampai di tkp dan berkutat dengan Komputer merepotkan temen lainnya, akhirnya kegagalan (ketiga) menyambutku : gagal registrasi kuliah semester ini.

Belum juga sembuh dari kegagalan-kegagalan itu, aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku tak becus sebagai PJ mengurus acara…

Rasanya hatiku luruh, lebur, hancur menjadi abu tanpa bentuk. Ingin menangis, ingin teriak, ingin didengarkan, ingin ditemani saat menangis.

Aku gagal lagi hari ini (keempat). Bagaimana aku harus menghadapi hari esok dan dunia…

Dan akhirnya, saat di busway, di angkot, di jalan, di tangga, di kamar, di toilet, tangis ku pun tak bisa dibendung lagi. Meski aku lelah, pengen mandi, bersih-bersih, tapi aku akan mencari titik terang dulu. Meski aku lapar, bagaimana mungkin aku bisa menelan makanan di atas semua kegagalanku hari ini.

Dan ini adalah kegagalan terakhirku hari ini (kelima) : belum bisa merasa kuat dan tegar.

¤ ¤ ¤

Aku ingin segera pagi, menyambut cerahnya pagi

Secerah masalahku yang bertemu titik terang kehidupannya

SURAT PERTAMA

Jadiiihhh, malam ini aku ingin berbagi cerita pada temanku yang tak lagi muda…

Yang lagi disibukkan dengan laporan pasca lengsernya kepemimpinan dalam sebuah perkumpulan. Tak usah dijelaskan apa itu.

Malam ini akan kutemani dia dengan cerita-cerita gak pentingku seperti biasa. Menulis itukan refleksi diri. Biar gak stres sendiri jadi dibagi-bagi. Yaa, meskinya gak cuma saat lagi sedih aja dibagi-bagi, saat bahagia pun musti banyak dibagi-bagi. Biar semakin banyak orang yang mendo’akan agar senantiasa bahagia.

Hokeh, lanjut kecerita…

Sore ini matahari seolah seperti bayi yang bersikeras menolak untuk tidur. Padahal hari sudah lewat & malam siap menyambut.

Itu kata-kat yang kupetik dari novel THE FAULT IN OUR STARS, karya John Green, yang ternyata udah dibikin sekuel filmnya (sayangnya aku belum nonton).

Jadi, dua hari pasca aku ‘sekarat’, ada yg marah tanpa alasan padaku. Ini benar-benar menguras fikiranku (padahal saat tak marah pun dia udah menguras sebagian fikiranku).

Bagaimana mungkin aku bisa bersikap cuek, tanpa bicara apapun padahal seseorang itu ada didekatku. Selain itu, aku bertanggung jawab penuh padanya. Ada aturan pertanggung jawaban tak tertulis antara aku & banyak orang (yang cintanya tak akan pernah bisa dibalas).

Aku berusaha diam, agar tak saling menyakiti lewat kata-kata saat emosi memuncak. Menahan diri dengan segala emosi yang mengahampiri. Sulit dijelaskan. Bicara dengannya rasanya seakan menusuk & ditusuk. Hahaaa, mungkin rada membingungkan. Tapi yaa begitulah…

Aku tak akan membicarakan kejelekannya. Cukuplah biar kusimpan sendiri disebagian hati & fikiranku.

Hei, bukankah dalam sebuah hubungan, apapun itu (pertemanan, persaudaraan, tetangga, etc…), bila ada sesuatu yg salah, yg keliru, yg tak pantas baiknya diomongin biar jelas. Biar tak salah faham.

Aku capek kalau terus ngalah. Musti ngertiin dia terus. Musti sabar.

Ini untuk yg kesekian kalinya. Tak perlulah aku ucapan terimakasih, sogokan ini itu. Sungguh tak perlu. Bisakah dia berhenti menguras fikiranku untuk memikirkan & mengurus dia. Inilah peraturan tak tertulis lainnya yang harus aku jalani.

Ikhlas… Kufikir hanya kita sendiri yang tau apa artinya kata itu. Tapi, tak bisakah kita hidup damai berdampingan, sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, terlebih sebagai saudara yang mustinya saling menguatkan.

Saat-saat seperti ini yang kubutuhkan adalah jauh darinya. Menjauh sementara waktu. Untuk saling mengoreksi diri. Daripada saat didekatnya kita gak dianggap ada & karena itu, aku pun bersikap demikian. Lucu siih, tapi aneh, hahaaa

Aku hanya ingin bicara & bergurau dengan nyaman, seakan sedang berada satu sofa di rumah.

Posisi terbaruku saat nulis ini adalah dikamar milik seorang teman (tetangga ditempat kerja). Kabur seperti biasa. Menjaga jarak. Memberikan ruang untuk berfikir.

So, bagaimana menurutmu kawanku yang katanya mirip Legolas di film THE LORD OF THE RING. Yang sayangnya aku belum baca novelnya sampai selesai, hanya udah menyelesaikan 3 filmnya.

Gimana gimana gimana??

☆ ★ ☆

Itu surat pertama untuk temanku yang kukirimkan lewat media elektronik (WA).

Dan berikut jawaban dari temanku itu :

Hmm, cerita bagus. Tapi aku bukan orang yang pintar/pandai dalam mengartikan segala sesuatu. Terakhir kali, sok tau dalam mengartikan sesuatu, semuanya jadi runyam, gak ada jalan keluar. Yang keluar hanya, caci maki dan tangisan.

Jadi, mohon dimaafkan yaah, karena, ketika harus berkomunikasi serius, aku harus berhadapan muka dengan orangnya. Jadi aku bisa merasakan apa yang dia rasakan, bisa melihat gerak tubuhnya, bisa menatap matanya, bisa mendengar suaranya. Agar informasi yang disampaikan jelas dan bisa menanggapi dengan baik dan benar. Atau bijak.

Indah kan jawabannya… ;p

Dia itu selalu punya pemikiran sendiri. Seolah dia tau apa yang dia yakini, gak seperti aku yang masih labil, heheee…

Oke, itu adalah suratku untuk temanku, makasih jawabannya yaaa…

#Sabtu, 19 Desember 2015

ESSAY 3

Dan inilah essay yang kukirim untuk mengikuti seleksi EKSPEDISI NKRI. Semoga aja lulus, amin…😉

Aku sangat-sangat berharap bisa lulus. Kalau gak sekarang kapan lagi, kalau gak aku siapa lagi, heheee :p

 

☆ ☆ ☆ ☆ ☆

 

SIKKA Inventarisasi Bahasa Yang Hampir Punah

 

Indonesia memiliki 726 bahasa daerah, namun hanya 400-an lebih bahasa daerah yang baru berhasil dipetakan. Selebihnya bahasa daerah mengalami kepunahan. Penyebab kepunahan tersebut karena penuturnya yang sedikit, penggunaan bahasa daerah yang jarang, bahasa daerah yang di dominasi oleh para orang tua, kemudian pengaruh budaya asing yang masuk melalui internet, urbanisasi dan juga pengaruh pernikahan antar etnis.

 

Setidaknya ada sembilan bahasa yang sudah mengalami kepunahan yakni di daerah Papua. Hal tersebut dikarenakan penuturnya yang kurang dari 500 orang. Bahkan sampai saat ini ada beberapa bahasa daerah yang terancam punah. Salah satunya adalah bahasa Sikka dari Nusa Tenggara Timur. Bahasa Sikka ini di gunakan oleh suku Saka di Flores.

 

Dengan keadaan seperti itu maka perlu di cegah agar tidak terjadi kepunahan, melestarikan dan memeliharanya itu cara terbaik. Melalui proses penelitian dan inventarisasi bahasa Sikka akan membantu  Indonesia khususnya dalam menyimpan aset dan kekayaan berupa benda tak berbentuk untuk di jaga dan di lestarikan dari kepunahan atau dari pencurian ragam budaya.

 

Nantinya dalam proses penelitiannya akan ada beberapa proses dan teknik untuk bisa menginventarisasi bahasa Sikka. Pertama pendekatan terhadap suku Saka yang sering menggunakan bahasa Sikka. Selanjutnya mencatat setiap perkataan yang diucapkan. Proses wawancara dan observasi tentunya sangat di perlukan untuk mendukung proses penelitian.

 

Dengan adanya ekspedisi NKRI 2015 koridor NTT, NTB dan Bali ini menjadikan jalan bagi saya untuk turut membantu Indonesia khusunya dalam melestarikan budaya.

RASANYA MALU MENGHADAPI DUNIA

Tuhan, hapuslah mendung dihatiku, terbitkanlah keceriaanku dan tumbuhkanlah harapan baikku, amin…

 

 

★ ★ ★ ★ ★

 

 

Kemarin, menjelang detik-detik pergantian tahun yang kebetulan bertepatan pula dengan batas akhir pengiriman berkas untuk mengikuti EKSPEDISI NKRI 2015 KORIDOR NUSA TENGGARA. Sayangnya menjelang detik-detik kedua hal itu justru sesuatu terjadi. Berkas yang dikirimkan susah banget buat dikirimkan. Entahlah, aku yang tak seberapa ngerti soal komputer hanya bisa bersedih dan menangis.

 

 

Aku dan kedua temanku udah berusaha dari jam 5 sampe tengah malem tapi itu berkas belum juga berhasil dikirim. Akhirnya aku minta perpanjangan waktu pada panitia. Sampai-sampai kami berniat dateng ke kantor yang beralamat di Cijantung sana. Sayangnya besok itu hari libur, perayaan 1 Januari 2015. Hadeeehhh, kacau deeh semua usahaku selama ini. Karena terlalu sedih, dua temanku kutinggalkan begitu saja lalu aku bergegas kekamar menenangkan diri. Saat itu hanya itu yang bisa kulakukan.

 

 

Setelah itu kami putuskan untuk meninggalkan sejenak soal EKSPEDISI, karena kami udah ada janji dengan teman lain untuk merayakan pergantian tahun di rumahnya, Cibubur. Yang justru pada akhirnya kami malah terjebak macet saat momen pergantian tahun itu.

 

 

Selama perjalanan menuju rumah temenku, kufikir rasanya saat itu aku malu menghadapi dunia esok hari. Aku takut semua orang merasa kecewa sama sepertiku atas kegagalan ini. Meski pada akhirnya teman-teman tetap mengusahakan dan membantuku untuk tak berkecil hati serta berusaha mengirimkan berkas yg udah telat itu.

 

 

Beruntungnya, meski aku masih bersedih selama 3 hari itu, temenku yang mau ikut EKSPEDISI juga, dapet SMS dari panitia EKSPEDISI, yang memberitahukan bahwa deadline pengiriman berkas diundur sampai tanggal 11 Januari. Berbahagialah aku, sampai mau loncat-loncat rasanya. Dan alhamdulillah, saat acara Donor Darah kemarin selesai berkas untuk EKSPEDISI juga berhasil aku kirimkan. Alhamdulillah. Tinggal nunggu aja hasilnya. Semoga aja lulus, amiiinnn…🙂

 

 

Ohya, ada hal lain setelah tahun baru itu. HP ku yang kemaren sempet dipakek buat ngirim data eror. Gak bisa dipakek selama dua hari. Otomatis aku gak bisa liat apa-apa. FB, TW, sosmed lah pokoknya. Tapi sungguh aku sangat-sangat bersyukur. Kesedihan, waktu, pokoknya segala hal yang harus kubayar untuk EKSPEDISI dan kegiatanku diluar sana moga berkah dan bermanfaat. Amin…🙂

 

 

ESSAY 2

Ini adalah essay keduaku untuk EKSPEDISI NKRI 2015. Judulnya masih bingung. Belum juga selesai dengan judul, saat periksa berkas syarat-syarat mengikuti EKSPEDISI, eh, ternyata salah semua tulisan ini. Karena yang diminta hanya sasaran dan tujuan penelitian. Aku ingetnya cuma maksimal 250 kata. Meskipun essay keduaku ini lebih dari 250 kata, tapi setidaknya ini sangat mewakili meskipun kurang spesifik bahasa apa yang mau aku teliti. Untuk itu, aku dan temanku edit lagi deh essayku ini.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥       

       Negara Indonesia di kenal dengan keanekaragaman budaya. Salah satunya terlihat dari banyaknya bahasa daerah yang berbeda -beda. Hal itu menjadikan aset dan kekayaan yang tak ternilai, apalagi dengan keunikan dan kekhasan yang dimilikinya.

 

       Berdasarkan data setidaknya ada 726 bahasa daerah, namun hanya 400-an lebih bahasa daerah yang berhasil dipetakan. Dan hal yang paling mengejutkan lagi adalah, hanya 13 bahasa yang dipakai lebih dari satu juta orang. Diantaranya bahasa Jawa, Sunda, Bugis, Minang, Bali, Betawi, Aceh, Banjar, Musi, Madura, Batak, Lampung dan Sasak. Kebanyakan bahasa daerah lain mengalami kepunahan.

 

       Penyebab kepunahan bahasa daerah antara lain : penuturnya yang sedikit, penggunaan bahasa daerah yang jarang, kebanyakan yang menguasai bahasa daerah adalah para orang tua, mereka cenderung lebih suka menggunakan bahasa daerah lain yang lebih dominan, merasa gengsi/malu menggunakan bahasa daerah sendiri, kurangnya kesadaran generasi muda terhadap bahasa ibu, pengaruh budaya asing yang masuk melalui internet, urbanisasi dan perkawinan antar etnis serta tidak adanya perhatian dari pemerintah setempat. Ada kemungkinan juga penyebab kepunahan bahasa daerah adalah modernitas yang sarat akan teknologi dan ilmu pengetahuan yang telah mengubah banyak orang dan cara berkomunikasi mereka.

 

       Guru Besar UI fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI Multamia RMT Lauder mengatakan, kepunahan terjadi karena jumlah penutur sedikit. Bahkan di Papua sudah sembilan bahasa daerah yang punah. Mereka yang punah karena jumlah penuturnya dibawah 500 orang. Apalagi penuturnya sendiri sudah tua dan belum ada yang menggantikan.

 

       “Sembilan bahasa di Papua sudah punah karena penuturnya sedikit dan karakteristik daerahnya yang terpencil,” katanya di perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional di Gedung Kementrian Pendidikan Kebudayaan Jl. Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, jum’at (21/2/2014).

 

       Hal lain yang juga menjadi penyebab utama adalah bahasa Indonesia itu sendiri. Bahasa Indonesia yang pada awalnya digunakan sebagai bahasa pengantar dan bahasa pemersatu berbagai suku di Indonesia justru mulai mengancam keberadaan bahasa daerah yang ada di negeri kita tercinta ini. Penggunaan bahasa Indonesia mendominasi berbagai kegiatan, acara maupun media seperti Radio, Televisi dan juga surat kabar.

 

       Berdasarkan data, bahasa daerah yang punah di Papua meliputi bahasa Mapia, Tandia, Benerif dan Saponi. Bahasa-bahasa daerah lain yang terancam punah seperti bahasa Lom di Sumatra, Bahonsai dan Dampal di Sulawesi Tengah, Budong-budong dan Dampal di Sulawesi, Lengilu, Punan Merah dan Koreha Uheng di Kalimantan, Hukumina, Kayeli, Nukaela, Hoti, Hulung, Kamarian dan Salas di Maluku, dan yang terakhir Sikka di Nusa Tenggara Timur.

 

       Dengan seiring berkembangnya bahasa-bahasa asing serta pengaruh globalisasi yang tak bisa dihindari, kita bisa berupaya mencegah agar budaya lokal tidak tergerus arus. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mencegah bahasa daerah punah, salah satunya dengan melalui pelajaran muatan lokal. Sayangnya karena pelajaran muatan lokal hanya dua jam perminggu tentu peran dari keluarga sehari-hari sangat penting. Keluarga merupakan pondasi utama bagi generasi muda dalam perkembangan bahasa ibu. Selain itu peran pemerintah dengan ikut andil dalam mewajibkan adanya pelajaran mulok dari tingkat SD, SMP sampai SMA. Dengan cara ini diharapkan pelestarian bahasa daerah ke generasi muda bisa tercapai.

 

       Bisa juga dengan sebuah pembentukan komunitas dengan penggunaan bahasa daerah sebagai sarana pelaksanaan dan sosialisasi sebagai penjelas dari pembentukan komunitas itu. Cara lain yakni dengan mendaftarkan bahasa yang penuturnya sedikit, atau bisa juga dengan membuat kamus bahasa daerah, seperti kamus Bahasa Lampung.

 

       Belum lama ini saya menonton sebuah film yang berhasil membuat malu. Bagaimana tidak membuat malu, saya adalah keturunan Jawa asli akan tetapi saya lahir dan besar di Provinsi Lampung. Namun sayangnya saya tak pandai berbahasa Lampung. Berbeda dengan gadis di film itu. Meski ia berdarah Manado, ia pandai sekali berbahasa Padang, karena ia lahir dan besar di Padang. Menurutnya dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

 

 

       Oleh karena itu, sebagai generasi muda kita wajib melestarikan bahasa daerah sebagai wujud nasionalisme dan cinta Tanah Air. Bangsa yang besar dari keberagaman suku, budaya dan bahasa ini akan hilang keunikannya jika bahasa daerah hilang. Banggalah dengan bahasa daerah kita masing-masing, karena dengan itu ke-Indonesian kita makin tampak.

 

 

Sumber :

– REPUBLIKA.co.id,Yogyakarta

– Sindonews.com

– Film Cinta Tapi Beda

ESSAY 1

Ini adalah essay pertamaku untuk mengikuti seleksi EKSPEDISI NKRI 2015 KORIDOR NUSA TENGGARA. Yang kuberi judul “DIMANA BUMI DI PIJAK DISITU LANGIT DIJUNJUNG.”

★ ★ ★ ★ ★

Berangkat dari sebuah film yang belum lama ini kutonton. Dimana dua orang sepasang kekasih yang berbeda suku, bahasa, adat istiadat serta keyakinan disatukan oleh yang namanya cinta. Tapi kali ini aku tak berbicara soal kisah cinta mereka.

 

Disana diceritakan bahwa sang gadis berasal dari Manado, hanya saja besar di Padang. Tapi ia mahir sekali berbahasa Padang, sampai-sampai orang lain salah mengira ia adalah gadis asli Padang. Aku sangat tersentuh dengan kata-kata sang gadis saat ditanya mengenai hal itu. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,” begitu jawab sang gadis.

 

Aku sangat malu dengan kenyataan yang justru berbanding terbalik dari kisah gadis asli Manado itu. Aku adalah seorang keturunan Jawa, namun lahir dan besar di Lampung. Sayangnya aku tak pandai herbahasa Lampung.

 

Jadi, kalau aku diberikan kesempatan untuk mengikuti Ekspedisi NKRI kali ini, aku akan mempelajari bahasa yang ada di daerah yang aku tempati nanti. Meski aku mungkin hanya akan tinggal sebentar, tepatnya hanya beberapa bulan. Setidaknya aku bisa mempelajari dan menguasai bahasa yang digunakan masyarakat setempat. Agar aku tak menyesal, aku akan berpedoman pada pribahasa itu. Dan siapa tahu aku bisa menerbitkan buku atau kamus bahasa daerah tersebut.